Responsive Advertisement

Senin, 22 Februari 2021

SENJA YANG SELALU DINANTI

        Seperti hari-hari biasanya sore itu, aku merasa tak sabar menunggu suara keras dari bel sepeda dan suara semangat dari kayuh sepeda tuanya. Didepan teras rumah, wajah ku selalu mengarah kejalan depan rumah dengan pandangan mata penuh harap. Bahkan saking aku tak mau melewatkan moment itu, sangat sulit emak ku merayu aku untuk mandi sore. Dan ini hampir berlaku setiap hari kecuali sabtu dan minggu.

“Mandi dulu yukk” Emak ku merayu
“Ntar Mak, Nunggu Bapak Pulang” Jawabku.
“Udah sore” Berkali – kali emak merayu tanpa hasil.
“Bentar lagi mak, nunggu Bapak” Jawaban yang sama dengan nada penuh harap. 

Kejadian itu tak akan pernah terhapus dari ingatan masa kecil ku, mungkin kejadian yang sama juga yang dirasakan teman-teman kecil ku kala itu. Karena kebetulan rumah ku saat itu, berada persis tidak jauh dari bibir jalan raya kampung tempat aku lahir. Lebih tepatnya desa Pondok cabe ilir, Tangerang, hari selasa 16 maret, tiga puluh sembilan tahun yang lalu terhitung sejak aku membuat tulisan ini, aku dilahirkan dari rahim seorang emak yang kuat dan memiliki rasa sabar yang luar biasa.

        Halaman yang sangat luas, berkarpet rumput gajah mini yang terhampar luas dan tertata rapih ditambah lagi rindangnya pohon rambutan di depan rumah membuat halaman rumahku selalu ramai sebagai tempat bermain teman-teman kecil ku kala itu. Memang bapak selalu merapihkan halaman rumah, terutama saat dia sedang tidak bekerja. Semua jenis permainan bersama dengan teman kecil ku kala itu, kami mainkan di halaman, sambil menunggu tenggelamnya matahari.

“Udah sore Tong, mandi” si Engkong, Kakek ku dengan penuh kasih sayang kepadaku.
“Bentar Kong, nunggu Bapak” Jawabku.
“Tong, udah sore mandi dulu” nenek ku ikut merayu.
“Bentar lagi Nek, nunggu Bapak” Jawab ku sama dengan nada penuh harap.

Kami tinggal saling berdeketan satu sama lain, rumah kakek dan nenek persis di samping rumahku saat itu disanalah beberapa adik-adik dari Bapak ikut tinggal bersama Kakek dan Nenek. Dan persis di depan rumah kakek, ada satu rumah dari adik Bapak, dan disana juga biasanya aku suka menginap. Rumah kakek ku kebetulan agak besar, desain rumah betawi saat itu memang cukup luas dan panjang memiliki banyak ruang-ruang kamar didalamnya. Bahkan aku bisa berlarian kesana kemari di teras rumah kakek, saat saudara sepupu ku datang dan menginap disana. Karena memang kakek sorang petani dan pedagang, bahkan ada satu kamar digunakan khusus untuk menyimpan barang-barang hasil kebun seperti padi, pisang dan lain sebagainya yang nanti nya akan di jual ke pasar.

        Kakek memiliki tanah dan kebun yang cukup luas, bahkan di belakang rumah, sangat cukup untuk kakek membuat kandang kambing dan kandang ayam. Kebun rambutan, pisang, jengkol dan durian pun ada di sekitar halaman belakang rumah kakek saat itu. Belum lagi sawah, kebun singkong dan kacang yang letaknya agak jauh dari rumah tempat aku tinggal. Kakek memang seorang petani sekaligus pedagang yang gigih. Di usia nya yang sudah tidak muda lagi, dia masih bersemangat untuk mencari nafkah demi menghidupi keluarganya. Tidak sedikit pun terbesit dipemikiran kakek untuk menjual tanah nya untuk bertahan hidup. Hal yang sangat mudah saat itu, jangankan untuk kebutuhan hidup, kebutuhan sekolah anak, bahkan untuk naik haji berdua dengan nenek pun bisa saja dilakukan kakek dengan menjual sebagian tanah yang dimilikinya. Tapi hal itu tidak dilakukan oleh kakek ku, dia tetap semangat pergi ke kota untuk berdagang demi menghidupi istri, anak dan cucu nya.

        Begitu luasnya kebun kakek ku bahkan disaat musim durian tiba, banyak tetangga sekitar rumah ku yang datang selepas subuh untuk mencari bunga durian atau yang disebut saat itu adalah karuk durian. Mereka berbondong-bondong membawa kantong plastik dan wadah berlomba mengejar sinar fajar mencari karuk durian sebanyak – banyak nya. Makanan khas betawi kesukaaan ku yang hanya bisa ditemukan saat musim durian tiba. Sungguh makanan yang agak sulit dicari saat ini. Kesederhanaan dalam memasaknya, cukup hanya tumisan cabe dan bawang merah membuat nikmat dan menambah nafsu makan. Menjadi menu yang cukup mewah berbanding dengan keadaan ekonomi zaman itu.

        Kakek berdagang cukup jauh, yang aku ingat saat itu adalah Pasar hilir. Mungkin yang kalian tahu saat ini adalah pasar Benhil atau yang sering orang bilang Bendungan Hilir, yang berada di Pusat nya Kota Jakarta. Jika dia sedang pergi berdagang untuk beberapa hari bahkan beberapa minggu aku suka bertanya kepada Nenek. 

“Engkok, mana Nek?”
“Engkong lagi ke Hilir” jawab si Nenek kepada ku.

Bingung saat aku mendengar jawaban nenek yang seperti itu, antara sedih karena tidak bisa melihat kakek dan senang karena jika kakek pulang dari berdagang pasti ada saja yang dibawa kakek sebagai buah tangan buat ku. Dan yang paling menggembirakan buat ku kala itu adalah, kakek biasa nya selalu memberi uang kertas yang masih baru, wangi dan kaku yang dia keluarkan dari dompet sabuk warna hijau nya.

Sebelum barang dagangan yang di jual habis, dipastikan kakek tidak akan pulang, butuh waktu berhari-hari bahkan berminggu-minggu jika dia pergi berdagang ke kota. Pernah suatu ketika aku diajak paman untuk menjenguk kakek berdagang dikarenakan sudah lama tidak pulang. Yang aku ingat saat itu juga, megah nya kota Jakarta tidak sehebat dan secanggih saat ini. Tapi buat ku kala itu sudah cukup megah dan hebat, karena aku pernah merasakan naik bus tingkat dan duduk di lantai dua dari bus itu. Perjalanan pun terasa cukup jauh kala itu, karena masih kurangnya armada transportasi yang ada di jakarta. Aku dan paman tidak bisa melakukan perjalanan pulang pergi seperti saat ini, karena kami harus menginap dan tidur di pasar tempat dimana kakek berdagang dan pulang untuk ke esokan hari nya.

        Matahari kian tenggelam di sebelah barat, pandangan ku pun masih tetap menatap kearah jalan beriring dengan rasa penuh harap. Seketika terdengar suara bel sepeda,

“Kring, Kring… Kring, kring”

Aku berlari penuh semangat menuju kearah dimana suara bel sepeda tua berbunyi. Benar saja di hadapan ku tengah berdiri seorang lelaki berbadan sintal, dengan wajah penuh keringat dan tersenyum kepada ku seraya berkata.

“Mana anak Bapak”

Aku langsung melompat kearahnya, kemudian digendong nya aku sampai kearah teras rumah. Emak juga sudah berdiri di teras rumah sambil memegang segelas air putih. Sungguh kenangan yang sungguh indah, yang tak bisa aku hapus sampai tulisan ini kubuat.

“Baru pulang Pak, pasti capek.. minum dulu Pak” Emak berkata kepada Bapak sambil memberi segelas air kepadanya
“Udah mandi belom, mandi dulu ya”
“Kalo udah mandi, nanti kita main lagi” Ucap bapak kepada ku

Aku langsung bergegas lari penuh semangat ke sumur persis di belakang rumah, dan langsung membersihkan seluruh anggota tubuh ku. Selesai mandi sore aku tak sabar menunggu moment yang kutunggu bermain dengan Bapak dan Emak, dan permainan kami berhenti ketika waktu untuk tidur malam. Permainan yang masih kuat ku ingat adalah melompat lompat di atas Kasur dan gebug bantal. Kami bertiga hidup dengan rukun dan bahagia saat itu meskipun kejadian itu tidak berlangsung lama.

        Persis nya kurang ku ingat, yang kuingat saat itu adalah Bapak berhenti dari pekerjaan nya sebagai cleaning service di Pelita Air Service, atau yang kalian tahu saat ini adalah Bandara Pondok Cabe tempatnya bekerja kala itu dengan alasan yang aku juga tidak pernah tahu. Mungkin dikarenakan usiaku saat itu yang terbilang cukup kecil, untuk tahu persoalan orang – orang dewasa. Andai saja saat itu aku bisa berfikir dan bertanya

“Kenapa dan ada apa sih?”

Sore ku tidak sama lagi seperti sore - sore sebelumnya, tidak ada lagi suara bel sepeda yang selalu kutunggu. Sungguh kondisi yang agak sulit bisa aku terima, dikarenakan usia ku saat itu, kebetulan juga baru akan masuk ke sekolah dasar. Jujur perasaan yang ada saat itu disaat aku di tanya

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

SoraBook

Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipiscing elit. Vestibulum rhoncus vehicula tortor, vel cursus elit. Donec nec nisl felis. Pellentesque ultrices sem sit amet eros interdum, id elementum nisi ermentum.Vestibulum rhoncus vehicula tortor, vel cursus elit. Donec nec nisl felis. Pellentesque ultrices sem sit amet eros interdum, id elementum nisi fermentum.




Comments

Formulir Kontak

Nama

Email *

Pesan *